Zenfone 6

6 10 2014

zenfone6

to be reviewed soon…





SCAMPER

2 10 2014

[Article ini terbit di majalah Seluler edisi September 2014]

SCAMPER

“Manipulation is the brother of creativity.”   – Michael Michalko

 

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang rekan yang berprofesi sebagai mobile programmer lepasan. Masih muda dengan pengalaman dan keahlian yang mumpuni. Dia banyak mengerjakan aplikasi mobile pesanan untuk beberapa platform dari perusahaan atau agency. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati secangkir kopi, tiba-tiba dia bertanya,”Kang, saya pengen bikin aplikasi mobile baru, tapi belum ada ide, nih. Kira-kira aplikasi kayak apa diminati saat ini?” Hmm… pertanyaan yang sederhana tapi jawabannya bisa bernilai satu juta dollar; dan kalaupun saya tahu jawaban pastinya, mungkin saya tidak sedang duduk dengan dia saat itu.

 

Di industri mobile, ribuan programmer dan mobile development company sudah mencoba peruntungan mereka dengan membuat aplikasi yang disukai pengguna handphone dan –harapannya- bisa mendatangkan pundi-pundi untuk mereka. Masih banyak yang meraba-raba tapi banyak juga yang sukses. Yang sudah sukses pun tak berhenti berinovasi karena aplikasi mereka mungkin cuma bertahan beberapa bulan lalu dilupakan.

 

Kata orang, there’s nothing new under the sun. Tidak ada yang baru di dunia ini. Hampir semua yang kita liat sudah pernah ada sebelumnya. Dalam bentuk yang berbeda, tentu saja. Ambil contoh game balapan F1 yang anda mainkan di akhir minggu bersama teman. Game semacam itu sudah ada sejak lama. Salah satu yang terpopuler, Pole Position, dikeluarkan oleh Namco di tahun 1982. Itu 32 tahun lalu! Game F1 yang anda lihat di PS4, Xbox ataupun platform lainnya adalah penyempurnaan dari Pole Position atau yang serupa. Coba anda pilih salah satu aplikasi favorite anda dan ingat-ingat apakah anda sudah pernah melihat, membaca atau mungkin menggunakan yang serupa sebelumnya?

 

Lalu apakah kita hanya perlu menyontek apa yang ada? “Steal like an artist”, kata Austin Kleon, penulis buku dengan judul yang sama dengan kutipan tadi. Menurut saya, pengembang aplikasi tak jauh berbeda dari seorang seniman. Mereka menciptakan sesuatu yang lalu dinikmati oleh orang lain. Seniman pun tak pernah berhenti berinovasi dan menciptakan sesuatu yang baru. Selalu ada lagu baru, film baru, lukisan baru, koreografi baru, atau bahkan seni baru. Jadi seperti apakah ‘steal like an artist’ itu?. Kleon menulis “First, you figure out what’s worth stealing, then you move on to the next thing.” Aha! ‘the next thing’ adalah kata kuncinya. Penyempurnaan untuk menemukan sesuatu yang ‘baru’, yang lebih segar, lebih menarik, lebih menghibur.

 

Lalu bagaimana kita menyempurnakan apa yang sudah ada? This is the tricky part. Michael Michalko memperkenalkan kembali dalam bukunya, Thinkertoys, sebuah metode yang disebut Scamper. Scamper adalah sebuah teknik brainstorming yang bisa membantu anda melahirkan atau menyempurnakan sebuah ide yang sudah ada. Scamper pertamakali diperkenalkan oleh Alex Osborne di tahun 1953 kemudian dikembangkan Bob Eberle di awal 70-an. Untuk mudahnya Scamper adalah singkatan dari ‘Substitute’, ‘Combination’, ‘Adapt’, ‘Modify’, ‘Put it in some other use’, ‘Eliminate’, ‘Reverse’.

 

Dengan Scamper, proses pertama adalah mendefinisikan masalah, kemudian kita mencari solusinya dengan mengajukan pertanyaan berdasarkan komponen-komponen Scamper tadi. Penjelasannya sebagai berikut:

 

  1. Substitute atau mengganti salah satu bagian dari ide sebelumnya dengan sesuatu yang baru. Apakah ada proses, keahlian , fitur atau materi, yang bisa digantikan untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan kita?
  2. Combination atau mengkombinasikan sebuah ide dengan ide lain. Apa yang terjadi jika anda mengkombinasikan sebuah proses, keahlian, fitur atau materi yang ada sekarang dengan yang lain? Apakah akan menjadi sesuatu yang lebih baik, atau lebih buruk? Apakah akan berpengaruh pada biaya, waktu pelaksanaan?
  3. Adopt atau mengadopsi atau meng-copy sebagian ide dari produk lain pada produk anda yang baru. Adakah metode dari industri lain yang bisa diterapkan di perusahaan anda? Apakah ada teknologi lain yang bisa dipakai di produk anda?
  4. Modify atau modifikasi atas ide sebelumnya, baik sebagian ataupun keseluruhan idenya. Apakah ada cara kerja yang bisa anda ubah? Apakah tampilannya, bentuknya?
  5. Put in some other use atau penggunaan dalam bentuk lain. Apakah produk kita bisa digunakan di tempat lain, dalam bentuk lain? Siapa lagi yang bisa menggunakan selain target utama kita?
  6. Eliminate atau menghilangkan sebagian dari ide kita sebelumnya. Apakah ada proses kerja yang bisa dihilangkan untuk lebih menyederhana alur kerja? Apakah ada fitur yang bisa dihilangkan?
  7. Reverse atau membalikkan proses atau ide sebelumnya. Adakah alur kerja yang bisa ditukar, apa dampaknya? Atau adakah fitur yang bekerja sebaliknya?Apa yang terjadi jika alur kerjanya anda tukar?

Anda mungkin akan menemukan banyak jawaban ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas.

Kembali ke permasalahan rekan saya tadi, apakah Scamper bisa membantu dia sebagai seorang mobile developer? Jawabannya iya. Aplikasi mobile populer yang anda lihat saat ini mungkin merupakan penyempurnaan dari aplikasi serupa sebelumnya dengan menggunakan 1, 2 atau lebih komponen Scamper. Path, aplikasi social networking yang sedang populer saat ini, menurut saya menerapkan sebagian dari kompenen Scamper yakni ‘Modifikasi’ dan ‘Eliminasi’ dari Facebook yakni dengan membatasi jumlah teman menjadi 500 (Modifikasi) dan menghilangkan akses lewat web (Eliminasi).

Misalkan anda ingin membuat sebuah game baru dan ingin mengambil inspirasi dari Flappybird. Bagaimana kita mencari ide baru dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan melalui metode Scamper? Berikut ilustrasinya:

Substitute. Apakah burungnya bisa anda ganti dengan helicopter atau karakter lain? Atau tiang-tiangnya digantu dengan peluru kendali atau laser? Atau mungkin layout-nya anda rombak total?

 

Combination. Mungkinkah mengkombinasikan game Flappybird anda yang baru dengan social network sehingga pengguna bisa bertarung mencari skor tertinggi melawan 20 teman di jaringan pertemanan mereka

Adapt. Apakah Flappybird anda bisa ditambahkan fitur ‘pause’ atau cheat seperti game-game yang lain?

Modify. Apakah game anda yang baru ini bisa diubah dalam bentuk 3D, atau menggunakan latar suara yang lebih dramatis?

Put it to some other use. Apakah Flappybird anda bisa dimainkan di web, di semua platform mobile atau menggunakan motion sensing seperti Kinect?

Eliminate. Apakah ada fitur dari Flappybird sekarang yang bisa dihilangkan?

Reverse. Alih-alih burungnya yang bergerak, apakah dia bisa diam di satu posisi tapi diserang bertubi-tubi oleh laser dan peluru kendali?

Anda mungkin bisa menemukan lebih banyak jawaban kreatif atas ilustrasi pertanyaan di atas dan mendapatkan solusi yang lebih baik. Jangan khawatir jika jawaban anda tidak feasible atau sulit diterapkan. Ingat bahwa Scampe adalah metode untuk brainstorming dan setiap proses brainstorming akan diikuti oleh proses seleksi untuk mencari ide terbaik dan mungkin bisa dikembangkan lebih lanjut.

 

Scamper mungkin bukan jawaban terbaik dalam proses pencarian ide tapi setidaknya bisa menjadi alternatif metode yang cukup efektif untuk mencari sebuah solusi atau inovasi.

 

Selamat mencoba.

 

Deden Purnamahadi

@dedenph

Penulis adalah Business Director di XM Gravity.





F1 and Me

18 07 2012

Kenapa gue pengen banget nonton F1? Mungkin gambar-gambar di post ini bisa menjelaskan.
Sejak punya mobil  sedan seken dengan kapasitas  2500 cc, gue jadi (tambah) suka sama mobil dan ngebut. Sebelum sedan, gue pake mobil mini van sejuta umat yang melayang-layang kalo dipake ngebut di atas 110 km/jam atau disalip truk dan bis di jalan tol. Mobilnya sih praktis, gak rewel, tapi memang gak senyaman sedan. Etapi, punya mobil yang bisa dipake ngebut bukan berarti bisa ngebut. Apalagi di Jakarta. Tempat yang tersedia cuma di jalan tol, itu pun setelah jam 9 malam.

Anyway, sekarang mobil jadi hobi tersendiri buat gue.

Gue sekarang lagi suka koleksi die cast. Koleksinya sih masih sedikit, baru ada 9 mobil. Biasanya sih mobil-mobil sport klasik, atau yang sesuai dengan merek mobil yang gue pake. Berburu die cast jadi hobi baru kalo lagi iseng jalan-jalan.

Berburu die cast pun bisa di mana aja : online atau offline.  eBay.com, Mall Ambassador, PI Mall, Senayan City atau bahkan di tukang jualan kagetan pas bubaran sholat Jum’at adalah tempat perburuan yang paling sering disambangi. Sayangnya, karena dana untuk die cast belum gede, jadi nyarinya yang murah-murah aja dulu, kalau bisa sih di bawah 300 ribu rupiah.

Sabtu atau Minggu adalah hari untuk merawat mobil atau berburu asesoris. Selain urusan mesin, merawat sendiri mobil kita adalah sebuah  keasyikan tersendiri. Mulai dari mengurangi derit di pintu dan kaca pakai silicone spray sampai  moles bodi biar kinclong.

Hari libur juga waktunya untuk browsing soal mobil, mulai dari DIY (Do It Yourself) cara benerin atau perawatan mobil di YouTube, download wallpaper mobil-mobil balap atau baca artikel-artikel dan berita seputar F1.

Kalau gak ada acara ke luar rumah, gue juga paling suka nongkrongin acara Top Gear di Indovision. Those three guys are awesome!

Supaya ilmu permobilan selalu nambah, beli majalah atau tabloid mobil wajib hukumnya. Koleksi majalah dan tabloid tersimpan rapi di lemari buku.

Seperti halnya bersih-bersih mobil, urusan baca majalah lebih sering hanya bisa dilakukan di hari Sabtu/Minggu, atau di bis dalam perjalanan ke kantor.

Majalah Autobild Indonesia yang gue langgani malah sempat ngajak gue untuk merasakan mobil-mobil eksotis keliling (dan ngebut) di seputar Jakarta. Liat koleksi-koleksi gambarnya di laman Flickr ini. Unforgettable experience!

Boys will be boys, and cars are our best toys! :)

-end-





#ExoticCarSensation bersama majalah Autobild Indonesia

4 06 2012

 

Liat foto-foto lengkapnya di sini : http://www.flickr.com/photos/dedenph/sets/72157630046417682/

 





Philips AquaTouch

23 05 2012
Beli AquaTouch ternyata bisa punya kesempatan nonton bola langsung ke Polandia.
Cekidot, gan!




7 Days with March : Thank you!

16 09 2011

7

Acara Top Gear adalah salah satu acara favorit saya di saluran BBC Knowledge. I love driving. Ketika diberi kesempatan menjajal Nissan March selama seminggu saya jadi merasa seperti Richard  Hammond. Hahahaha….

Terimakasih buat Nissan Motor Indonesia atas kesempatan yang diberikan. It was fun. I learned many things with March. Nissan March is a good car, honestly. Secara rutin saya mengendarai tiga mobil : Toyota Avanza, Toyota Yaris dan BMW, jadi saya tahu kalau mobil ini memang benar-benar enak untuk dikendarai, walaupun saya bukan Richard Hammond :)

So, see you again…with Juke, maybe? ;)

0Oo





Irit dan Turning Radius yang Kecil

16 09 2011

6

Tanpa terasa udah wiken aja. Yaaay!

Wiken buat saya =  futsal. Sehabis pulang kantor, saya dan teman-teman kantor biasa main futsal di Bara Futsal. Lokasinya di bekas Supermaket  Golden Truly, dekat terminal blok M.  Biasanya kami mengajak teman-teman dari luar untuk ikut main karena kadang pemainnya gak cukup. Saking suka dan cinta sama  futsal, kami membuat situs  untuk berbagi ilmu cara main sepakbola/futsal di http://mainbola.net. Setiap Sabtu/Minggu kami juga shooting video-video pendek untuk konten di website.

Pagi ini saya memasukkan  dua bola futsal dan tas olahraga di bagasi Nissan March dan meluncur menuju kantor.

Dalam perjalanan pagi ini, jalanan cukup padat dan saya jadi  teringat lagi materi Eco Drive pada saat technical briefing beberapa minggu lalu. Ada banyak kasus dimana setelah pemakaian beberapa minggu/bulan pembeli mobil mengeluhkan konsumsi bahan bakar yang katanya tidak sehemat yang tertera pada brosur atau yang  disampaikan oleh sales agent. Kadang mereka  lupa kalau konsumsi bahan bakar dipengaruhi oleh cara mereka berkendara, kondisi jalanan (terutama kemacetan jalanan) dan beberapa faktor lagi. Beberapa tips Eco Drive (untuk mobil dengan transmisi automatic) yang disampaikan agar  hemat bahan bakar adalah :

  1. Menginjak pedal gas  dengan tekanan ringan
  2. Menjaga kecepatan konstan
  3.  Mengatur kecepatan untuk menghasilkan RPM  rendah
  4. Mengantisipasi jalur yang akan dilalui
  5. Tidak menggunakan posisi “O/D off” bila tidak diperlukan
  6. Jangan mengerem atau menambah gas secara spontan
Sementara tips Eco Drive untuk mobil transmisi manual adalah :
  1. Mengoper gigi lebih tinggi secepat mungkin
  2. Menajaga kecepatan yang tetap
  3. Menjaga kombinasi gigi dan kecepatan yang sesuai dengan RPM yang serendah mungkin
  4. Mengantisipasi jalur yang akan dilalui
  5. Jangan mengerem atau menambah gas secara spontan
Jika semua itu dijalankan, seharusnya konsumsi bensin mobil anda akan sama dengan yang di-klaim oleh pemilik merek. Setidaknya mendekati.

Nissan March sendiri memiliki konsumsi bensin (km/ltr) sbb:

  • March 1.2 M/T : 21.8
  • March 1.2. A/T : 18.5

Kedua angka diatas berdasarkan test yang dilakukan oleh majalah Autobild  dan Otomotif (di edisi Nov 2010) dengan menggunakan bahan bakar Pertamax pada rute Jakarta-Jogja.  Ingat selalu, konsumsi bahan bakar dipengaruhi faktor-faktor yang saya sebutkan sebelumnya.

Jam 18.30 saya meninggalkan kantor menuju Bara Futsal. Seperti biasa, Jum’at adalah hari terpopuler untuk bermain  futsal bagi para pekerja seperti saya. Lapangan parkir malam ini terasa penuh, sehingga saya harus parkir di luar jalan. Malam ini kami latih tanding dengan tim futsal dari kantor lain. Alhamdulillah menang dengan selisih gol cukup jauh.

Sehabis futsal, mobil saya harus berputar arah supaya bisa pulang lewat Blok M Plaza. Jalan di depan gedung Bara Futsal sebetulnya cukup lebar tapi menjadi lebih terbantu karena Nissan March memiliki turning radius yang  kecil : 4.5 meter. Ini membuat saya tidak perlu memundurkan mobil untuk mengambil jalan ketika berputar. Turning radius ini lebih kecil dari yang diperlukan oleh Yaris dan Swift  (4.7 m) ataupun Mazda 2 (4.9 mtr)

(Ilustrasi diambil dari http://nissanbandung.info)

 

Dalam perjalanan pulang , saya juga teringat sebuah artikel di koran tentang kebingungan seorang eksekutif  perusahaan mobil Jepang yang baru ditempatkan di Indonesia akan pola pembelian mobil orang Indonesia. Kebingungannya adalah karena satu merek mobil bisa diproduksi sedemikian massalnya, menjadi pilihan masyarakat dan merajai jalanan di Indonesia.  Setelah bekerja beberapa bulan di Indonesia, barulah dia menemukan jawabannya. Menurut dia, ketika membeli mobil orang Indonesia sangat dipengaruhi oleh pendapat umum alih-alih mempelajari  dan memilih mobil yang memang sesuai dengan kebutuhan. Hmmm…mungkin ada benarnya… Orang juga kadang lupa memperhitungkan total cost of ownership, seperti untuk biaya service perawatan berkala.  Jadi, sebelum membeli mobil ingat baik-baik : Apa kebutuhan berkendara anda?  :)

0Oo








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.