header image
 

Hulk

Mumpung lagi liburan, hari Minggu kemaren gue ngajak ponakan, Shidqi, untuk nonton Hulk. Dua minggu sebelumnya gue ngajak dia nonton Kungfu Panda di Citos. Karena males jalan jauh, kali ini nontonnya di XXI Giant Bekasi. Bioskopnya sih bagus (21 gitu, lho..), walaupun Mallnya gak nyaman banget. Isinya orang jual baju ama HP, kayak ITC :D

Filmnya lumayan menghibur. Shidqinya juga seneng-seneng aja kecuali “AC-nya dingin banget oom. Aku jadi pengen tidur…”.

Oiya, ceritanya tentang Bruce Banner yang akhirnya menemukan lawan yang setimpal dalam bentuk ukuran karena si tentara bayaran yang bernama Emil Bolonski (kalau gak salah), gak keberatan dijadiin kelinci percobaan seperti yang dilakukan militer kepada Bruce sehingga dia bisa jadi Hulk.

Sepanjang film dia anteng-anteng aja nontonnya, sampe di menjelang akhir dia bikin komentar yang bikin gue ‘kaget’.

Komentarnya gini : “Musuhnya bisa ngomong, tapi Hulknya gak bisa, ya oom..”

Heh? Anak kecil emang gitu ya? Merhatiin yang detail-detail?

Emang sih si Hulk bisanya cuman teriak “AAAARRRRGGGGHHHH…” atau manggil-manggil nama pacarnya, sementara lawannya bisa bersumpah serapa, dan lain sebagainya.

Sebagai oom yang baru nyadar kalau Hulknya gagap cuman bisa komentar “iya…”. :D

Lo baru nyadar juga kalo Hulknya gagap khan??? :D :D

Bobby Caldwell

image011.jpgJum’at minggu lalu gue nonton konser Bobby Caldwell di acara Java Jazz Festival. Di acara JJF dua tahun lalu, gue sempet kirim e-mail ke Peter Gontha untuk mendatangkan Bobby Caldwell ke Jakarta pada acara JJF tahun berikutnya. I’m not sure apa oom Peter baca email gue atau enggak, however, senang juga bisa liat Bobby manggung di Jakarta. Pas ngantri sempet ketemu Edi, temen SMA yang datang sama istrinya. Gue sendiri janjian ama Naning di dalam venue. Di susunan acara, konser harusnya mulai jam 11.00 , tapi seperti biasa, ngaret dikit. Jam 11.30 konser baru bener-bener dimulai. Gue lupa lagu pertama apa, tapi yang gue inget dia bawain lagu-lagu kayak Heart of Mine, What You Won’t Do for Love, etc… Pas dua lagu itu banyak penonton ikutan nyanyi. Seru juga… Jam 12.15, banyak penonton keluar ruangan, udah pada ngantuk, kayaknya, atau mungkin udah gak familiar dengan lagu-lagu yang dibawain. Di paruh kedua (kayak sepakbola aja) pertunjukan, banyak lagu memang tidak terlalu awam di telinga pendengar Indonesia. Jam 12.45 pertunjukan selesai dengan lagu “Janet”. Penonton yang belum puas karena belum denger lagu “Back To You” mulai teriak-teriak encore ‘we want more…we want more..!!’ Gak sampe semenit mereka keluar lagi, dan bawain 2 lagu tambahan, tapi tetep gak nyanyi lagu itu. Kurang lebih jam 1, pertunjukan selesai, tapi gue yakin banyak yang kecewa karena gak bisa dengerin Back to You.

Cloverfield sucks!

Cloverfield jadi film ketiga yg gw tonton gak sampe abis. Yg pertama gw lupa judulnya. Waktu itu nntn ama Dora, temen kuliah gw. Too much blood, jd eneg liatnya. Yg kedua ‘legend of tzu’. Nonton ama rino,sahat(?), dan bbrp lg yg gw dah lupa. Sumpah,tuh film ga penting bgt. Effect-nya kayak di sinetron buatan lokal, dan warna2nya norak abis.
Eh,tadi malam kejadian lg. Abis maen bilyar ama ali,reza,arief,syam,feri, kita2 ke plaza Senayan XXI (minus arief). Tadinya siy pengen nntn ‘jumper’ tp kata reza ’sucks big time!’ ,ya sudah kita mantapkan aja dgn cloverfield yg ,menurut resensi yg dibaca arif, cukup bagus. Arief cuma bilang kalo filmnya mirip ‘blair witch project’ (mudah2an gw nulisnya bener) yg pake handy cam.
Berhubung malam minggu, bioskop lumayan rame, jadi kita dpt tempat duduk di barisan no 2 dr depan. Okay lah. Sdh pernah bbrp kali.
Film dimulai dgn gbr seolah2 yg akan kita liat berikutnya adalah dokumentasi rahasia milik pemerintah amerika. Fineee… Selanjutnya adalah gbr2 yg diambil dr si punya cerita yg diambil dr handycam dia. Mulai dr apartemen pacarnya, farewell party temennya, sampai dtgnya si godzilla ini yg merusak kota new york. I’m not going to talk about the story krn gw gak nntn sampe abis. Pengambilan gbr dgn model pakai handycam yg gak stabil, kadang ga fokus, berpindah dr 1 obyek ke obyek lain dgn cepat, sumpah bikin kepala gw pusing. Apalagi kita duduk d dpn. Gak nyampe 30mnt sekitar 4 penonton bagian belakang udah keluar bioskop. Penonton bagian dpn melirik2 ke belakang barangkali ada bangku kosong yg bisa dijajah. Gw juga. Kita berlima udah mulai gak tenang jg krn film ini memang bikin pusing. Ali keluar duluan, disusul syam dan ferry. Gw ama reza coba bertahan tp hanya kuat 15 menit. Akhirnya kita keluar jg. Yg keluar pertama td lg pada duduk dpn teater 6 sambil megang2 kepala, dan nyumpah2. Arrgh..ini film cukup ditonton di dvd aja kayaknya. Gak worth it bgt 50rb harus dibayar dgn tontonan yg cuma 45 mnt dan sakit kepala… Damn!

BT

Pagi ini, sambil nunggu mood buat mandi, seperti biasa, saya membaca Kompas di ruang depan. Pagi hari di rumah sibuk seperti biasanya, maklum udah hampir dua minggu setiap pagi nyokap dan para pegawainya sibuk dengan seratusan lebih kotak katering untuk sebuah perusahaan di bilangan cawang.

Bokap dan nyokap terlihat sedang membicarakan sesuatu sampai akhirnya mereka duduk di ruangan yang sama dengan gue.

“Gak betah kali dia di rumah, jadi pengen kerja lagi”, nyokap meneruskan percakapan sebelumnya. “Biasa kerja, makanya sekarang dia bete”, tambahnya.

“Siapa, mah?”, tanya saya

“Neng Nani”, jawabnya singkat

“Bete tuh apa sih, den? Singkatan atau apa?”, kali ini bokap yang nanya

Waaahh, pertanyaan sulit juga nih. Saya jadi ingat pernah mengajukan pertanyaan yang sama ke Kresna, teman kuliah saya, duluuuu waktu masih kuliah. Dan jawabannya sama seperti yang lalu saya sampaikan ke bokap

“BT itu adalah singkatan dari ‘bad temper’ alias marah, jengkel atau tidak enak hati”, jawab saya singkat.

Ya, saya rasa memang itu awal-awalnya bangsa ini menemukan kata ‘bete’ sebelum akhirnya maknanya berevolusi menjadi lebih luas.

Saya coba tanya ke mbah Google mungkin ada yang pernah membahas asal muasal kata ini jadi saya bisa menjelaskan dengan lebih baik ke bokap dan nyokap tapi tak menemukan satu pun.  Bete! 

LP

Masih dari mudik kemarin.

Hari ke 4 Idul Fitri.

Sambil jalan-jalan ke stasiun bis di Kuningan untuk melaporkan kondisi arus balik untuk sebuah stasiun radio di Jakarta, saya dan seorang kerabat yang menyupiri mobil mencari tempat cuci mobil di pusat kota Kuningan. Setelah menyambangi 2 tempat cuci mobil yang semuanya rame, kami menemukan sebuah tempat cuci mobil yang sepi, di samping lembaga pemasyarakatan Kuningan.

Agak kaget juga memasuki pelataran tempat cuci karena yang menyambut kami adalah seorang petugas -bak polisi- dengan seragam dinasnya. “Jadi satpam atau pekerjaan sampingan?,” pikir saya.

Setelah keluar dari mobil, si petugas kemudian mengambil alih kemudi dan menempatkan mobil pada posisi dan lokasi untuk dicuci. Tak lama kemudian, dua orang dengan seragam mekanik mulai menyemprot, menggosok dan membilas mobil saya sampai bersih.

Untuk urusan vacuum dan finishing , si petugas -bak polisi tadi- , bahkan dengan satu orang petugas lain, juga ikut membantu. Ketika diperhatikan dari dekat ternyata dia adalah pegawai Lembaga Pemasyarakatan seperti yang terdapat pada emblem di baju dinasnya.  Saya langsung mikir bahwa tempat cuci mobil ini adalah -mungkin- salah satu unit bisnis LP Kuningan.

Setelah hampir 30 menit, pekerjaan cuci mobil selesai; dan dalam perjalanan pulang saya sempat mengkonfirmasi pada saudara saya “Itu tadi bisnis sampingannya LP, ya?”

“Iya,” jawab kerabat saya “yang cuci mobil juga narapidana, koq…”

Hehhhh?????

Ternyata, narapidana-narapidana yang hampir ‘lulus’ diperbantukan untuk bekerja di tempat cuci mobil itu dan gajinya dibayarkan ketika mereka sudah bebas dari sana.

 Oooohhh… Pinter juga….

Earphone

image000.jpgMudik kemarin saya lupa bawa earphone untuk iPod karena kebiasannya iPod dicolokin langsung ke tape mobil.  So, hari itu saya ke pusat perbelanjaan di Kuningan (it’s 30 km to south of Cirebon) untuk beli earphone.

Setelah ngambil uang di ATM (karena harga earphone setidaknya 50rb-an) saya masuk ke salah satu toko elektronik yang hampir tutup ,maklum udah hampir jam 6 sore, dan toko-toko di Kuningan rata-rata tutup setelah jam 5 sore.

“Ada earphone?”, kata saya sambil meletakkan kedua jari telunjuk saya di telinga, takut kalau2 si penjual tidak tau apa itu ‘earphone’

“Wah,enggak ada…Coba aja tanya ke toko mainan di samping”, katanya sambil menunjuk ke lapak mainan yang ada di depan tokonya.

Saya nyengir juga sama jawabannya untuk membeli earphone di ‘toko mainan’. Tapi ya tidak ada salahnya juga bertanya.

Sebelum bertanya saya melihat beberapa radio portabel yang dijual lengkap dengan earphonenya.

“Kalau earphonenya aja, aya teu,  mang?” tanya saya

Sang pedagang mengambil segulungan earphone yang tersembunyi di balik tumpukan mainan “Aya”, katanya.

Setelah memilih-memilih (sebetulnya earphonenya sama semua), saya mengambil satu dan mulai menawar “Berapa, mang?”

“Lima ribu rupiah..”, jawabnya

Whaattttt?????? Lima ribu rupiah. (bukannya sombong) Gile! murah amat.

Tanpa tawar-menawar, saya mengeluarkan uang 5000 dan memberikannya kepada si penjual. Uang yang saya ambil dari ATM tidak jadi dipakai…hehehehe….

Dah ah, cuma mau cerita itu aja. Earphone goceng!